Sebagai makhluq tuhan yang di beri akal pikiran, selayaknya kita menggunakan akal tersebut sebagaimana mestinya. Jika kucing menggunakan indera pendengarnya untuk menangkap mangsa dan mendeteksi segala ancaman yang ada, maka manusia menggunakan akalnya untuk memperoleh kebaikan-kebaikan dan menolak segala kemudlorotan dalam dunia yang kompleks ini. Namun dilingkungan yang kita singgahi saat ini, nuansa dan aroma keilmuan di kalangan pelajar maupun masyarakat luas terasa sayup-sayup redup. Padahal dilingkungan tersebut sudah banyak tertanam sekolah-sekolah formal, informal maupun nonformal.
Masih banyak dari kita yang dalam kehidupan seharinya menghambur-hamburkan waktu tanpa ada manfaatnya. Dari yang jagongan diwarung-warung, main catur sampai larut malam, nonton film atau sinetron berlarut-larut, melarikan diri saat KBM berlangsun, bolos sekolah, hingga waktu luang yang ada digunakan untuk tidur dan tidur (tanpa ada manfaatnya). Fakta di atas menunjukkan tradisi ilmiah kita masih rendah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa hanya berdiam diri (ignored)? atau bertindak sesuatu (action)? Sudah saatnya kita mereformasi diri dengan menjadikan lingkungan ilmiah sebagai manifestasi kita sebagai manusia yang berakal. Sudah saatnya kita menerapkan tradisi ilmiah dalam diri kita masing-masing. Ada banyak hal yang bisa dilakukan sebagai implementasi dari tradisi ilmiah, seperti gemar membaca, diskusi keilmuan rutin, bedah buku, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya. Disamping itu, ada beberapa ciri dari tradisi ilmiah yang sangat menonjol, antara lain:
1. Berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan *
2. Tidak bersikap apriori (beranggapan sebelum menganalisis keadaan yg sebenarnya) *
3. Selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga, sebelum
menyimpulkan atau mengambil kesimpulan *
4. Mendengar lebih banyak daripada berbicara *
5. Gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk membaca *
6. Lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian
7. Selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional *
8. Gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana ide, tetapi tidak suka berdebat kusir *
9. Berorientasi pada kebenaran dalam diskusi, dan bukan berorientasi pada kemenangan *
10. Berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu, dan tidak bersikap emosional serta meledak-ledak *
11. Berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur *
12. Tidak pernah merasa berilmu (memiliki ilmu) secara permanen sehingga selalu ingin belajar *
13. Menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan *
14. Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan *
15. Lapang dada dan toleran dalam perbedaan *
16. Memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain, dan senantiasa menguji kebenarannya *
17. Selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif *
( * sumber: buku “Delapan Mata Air Kecemerlangan” hal. 64-66. Karya Anis Matta )
sebenarnya beruntung bagi kita-kita yang tinggal dilingkungan pendididkan seperti madrasah, lembaga formal/nonformal, universitas dan sebagainya, karena didalamnya sudah terbentuk sistematika pembelajaran yang baik dan terstruktur. Namun sudahkah kita menerapkan sifat dan pola pengetahuan ilmiah sebagaimana yang sudah penulis paparkan diatas.
Selanjutnya mari kita ketahui beberapa bahasan metode ilmiah yang digunakan oleh para ilmuan islam sebagai penunjang proses tradisi ilmiah dalam diri dan lingkungan kita. Simpelnya, metode ilmiah adalah suatu proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis. Dalam dunia islam terdapat beberapa macam metode ilmiah, antara lain:
Metode Tajribi
Adalah metode pengamatan objek fisik menggunakan panca indera, atau disebut juga metode eksperimen. Dalam tradisi ilmiah Islam, pengamatan terhadap objek fisik dilakukan pada dua level, yakni level teoritis dan level praktis. Namun metode ini bisa memunculkan pandangan subjektif sehingga hasilnya bisa saja kurang akurat.
Metode Burhani
Adalah metode pengamatan objek non fisik. Jika metode Tajribi menggunakn panca indera sebagai alatnya, maka metode ini menggunakan akal sebagai alat peneliti objek metafisik.
Akal diklaim sebagai alat peneliti yang lebih baik daripada indera kita. Akal mampu memahami realitas dan tidak hanya sekedar melihat, mencium, mendengar layaknya indera kita. Selain itu akal tidak mengenal jarak yang bagi indera kita dijadikan sebagai kelemahan. Mau jauh ataupun dekat tidak ada bedanya, karena akal tetap mampu untuk menggapainya. Akal juga mampu menerobos aspek bathin dari suatu realitas, sehingga ia bisa mengetahui macam-macam sifat batin seperti cinta, kasih, bahagia, sedih dan sebagainya. Akan tetapi, apa yang diasumsikan oleh akal, kebenarannya tidak dapat dijamin 100%, maka selayaknya metode ini ditopang oleh metode lain yang bisa menghantarkannya mencapai suatu konklusi yang benar.
Metode Bayani
Adalah metode yang merujuk kepada suatu teks yang mana teks tersebut diyakini memiliki kandungan pengetahuan. Umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai teks rujuakan tersebut. Metode bayani ini dilakukan untuk mengurai ilmu-ilmu yang terdapat dalam suatu bacaan. Khususnya oleh orang islam digunakan untuk mengurai isi daripada kandungan Al-Qur'an & Hadits.
Metode Irfani
Metode ini menggunakan hati sebagai alat pengamatan. Dalam hal ini tidak hanya melihat ataupun mempersepsi lagi layaknya indera dan akal, akan tetapi hati sudah mampu merasakan. Karena metode ini menisbatkan pada pengalaman atau merasakan sesuatu, maka boleh jadi bahwa pendekatan irfani ini dapat mewakili sepenuhnya tentang pengetahuan tersebut. Namun tidak semua orang mampu memotensikan hatinya untuk meraskan realitas pengetahuan, karena dalam hal ini seseorang membutuhkan jiwa yang bersih.
Semoga dari uraian yang disuguhkan, mulai saat ini kita dapat memperbaiki mindset kita terhadab ilmu pengetahuan agar lebih baik dan mengubah tradisi ilmiah kita menjadi lebih kokoh. Amin!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar